Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

FILOSOFI PELANGKIRAN USAHA/BISNIS SERTA SARANA YANG DIPAKAI MEMUJA MENURUT MASYARKAT HINDU DI BALI

FILOSOFI PELANGKIRAN USAHA/BISNIS SERTA SARANA YANG DIPAKAI MEMUJA MENURUT MASYARKAT HINDU DI BALI

Sumber foto :@dharmacoffee hanya ilustrasi

Pemahaman Pelangkiran Usaha

Pelangkiran usaha merupakan tempat melakukan pemujaan dan menstanakan Dewa pengendali dari usaha/bisnis yang dilakukan agar mendapat keberkatan dan perlindungan atas usaha yang dilaksanakan serta peredaran uang ditempat usaha tersebut.

Adapun Dewa dan Bhatara yang berstana dipelangkiran usaha/ bisnis adalah 3 Dewa yang masing masing memiliki tugas yang berbeda antara lain:

I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan bertugas sebagai pengenter dan pengendali taksu serta menuntun dan melindungi kita dalam berhubungan dengan orang lain atau semua relasi. Kelancaran komunikasi agar hubungan bisa berjalan sesuai yang diharapkan dan segala niat dan maksud bisa dimengerti oleh relasi ( ini yang disebut pengenter atau penghubung) serta memberi karisma dan wibawa kepada kita agar memiliki pengaruh bagus dihadapan orang lain ( ini yang disebut ketaksuan).

Dewa Ayu Mas Melanting bertugas menjaga setiap bentuk usaha yang dibuat termasuk barang dan orang orang yang bekerja, agar usaha berjalan lancar dan karyawan yang bekerja aman dan terlindung, menjaga orang-orang yang bekerja selamat dan bertindak jujur dalam usaha, kemudian menentukan hukum sebab akibat, serta segala kedisiplinan bekerja bagi semua orang.

Ida Bhatari Rambut Sedana yang bertugas menjaga dan melindungi proses keluar masuknya keuangan agar tidak diganggu oleh pihak lain atau kekuatan lain.

Pelangkiran ditempat usaha hendaknya menghadap ke selatan suapaya sesuai dengan tatwa filsafat dan filosofi sastra dan lebih tepat lagi bila dibuat berbentuk pelangkiran namun berisi atap dan pintu.

Hal ini maksudnya bahwa stana beliau tidak boleh ada gangguan dari kekuatan apapun yang bisa merusak stana beliau sebagai sumber Amerta.

Dipelangkiran usaha ini wajib menggunakan daksina linggih untuk menguatkan dan menetapkan lingga/ linggih/ stana dari Bhtara Taksu. Dalam istilah Hindu Bali disebut ngentegang linggih agar suapaya beliau 24 jam atau seharian penuh menjaga dan melindungi usaha yang dimiliki.

Serta melakukan penyucian dan mengharumkan lingga beliau dengan bunga-bunga harum setiap hari Purnama dan hari hari suci lainnya, terutama hari yang berkaitan dengan hari kerejekian ( hari Rambut Sedana/ Buda Wage).

Daksina linggi dipelangkiran ada dua yaitu satu daksina linggih untuk lingganya Bhatari Rambut Sedana dan satu lagi untuk lingganya Dewa Ayu Mas Melanting dan I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan.

Upakara yang di haturkan

Persembahan untuk Dewanya adalah banten peras pejati ketipat gong, taluh bekasem, punjung ireng berisi ayam betina hitam dipanggang, tirta bunga tunjung biru/ teleng biru atau persembehan sederhana canang sari berisi kopi dan air putih wadahidalam satu tempat.

Untuk bhutanya dipersembahkan sehehan kepel ireng duang kepel dadi atanding, atau caru ayam hitam betina dibagi menjadi empat porsi.

Fungsi dan Manfaat

Sebagai stana taksu geginan yang memberikan control terhadap usaha yang dilaksankan agar bisa berjalan lancer sesuai dengan harapan. Serta semua komunikasi interaksi terhadap semua pihak yang berkaitan dengan usaha bisa berjalan sama-sama menguntungkan.

Sebagai tempat memohon penglaris, pengarad, pelindung, pengendali dan pematuh bagi pelaku usaha serta semua pihak yang berkepentingan dalam interaksi usaha tersebut.

Sebagai tempat memohon peneduh tempat usaha agar menjadi nyaman bagi jalannya perputaran usaha serta setiap orang yang masuk kedalam lingkungan usaha menjadi nyaman, aman dan tentram.

Sebagai tempat memohon perlindungan usaha dari berbagai gangguan baik manusa sakti, ilmu hitam maupun mahluk gaib yang mengganggu usaha.

Sumber: pasramansastrakencana,com


Post a Comment for "FILOSOFI PELANGKIRAN USAHA/BISNIS SERTA SARANA YANG DIPAKAI MEMUJA MENURUT MASYARKAT HINDU DI BALI"