Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Terlalu Mudah Percaya Sama Orang Yang Kerauhan, Begini Cara Mengujinya!

 Jangan Terlalu Mudah Percaya Sama Orang Yang Kerauhan, Begini Cara Mengujinya!

IDA PANDITA MPU JAYA ACHARYA NANDA

Kerauhan dalam perbendaharaan tradisi Bali sering juga disebut dengan istilah “tedun”, “kerangsukan”, “nyajan”.

Kalau berbicara masalah kerauhan, ini merupakan sebuah fenomena religi yang memang banyak kita saksikan ketika orang menggelar ritual keagamaan.

Terutama pada konsep Dewa Yadnya atau odalan di pura.

Ada anggapan masyarakat bahwa kalau orang ngodalin atau mekarya di pura, kalau tidak ada kerauhan, berarti Ida Bhatara tidak turun menyaksikan.

Tapi ini kan tidak bisa dibuktikan.

Mana tedunnya Bhatara benaran dan mana yang mengada-ada.

Ketika kita melakukan ritual, dalam aspek psikologis dan rasa, sesungguhnya berupacara merupakan ungkapan rasa mesra atau kerinduan dengan Ida Bhatara.

Karena Ida Sang Hyang Widhi dengan prabawanya Bhatara itu bersifat abstrak, sangat sulit untuk kita berkomunikasi.

Saat itulah rasa-rasa mesra dan ekspresi kerinduan dengan Tuhan itu, menyebabkan orang yang ikut dalam ritual tersebut seakan-akan bisa masuk pada alam berbeda atau niskala.

Alam yang berbeda inilah kemudian menimbulkan kerauhan.

Dalam Tatwa Siwa Purana dikatakan, apabila ada orang yang mengaku-ngaku Dewa atau manifestasi Tuhan yang memasuki orang itu (kerauhan), itu mesti harus diuji coba terlebih dahulu dengan api pembakaran tempurung kelapa.

Kalau ternyata tidak terbakar oleh api, berarti betul yang bersangkutan memang kelinggihin atau dimasuki roh suci.

Tapi kalau ternyata terbakar, itu berarti kerauhan bohongan dan menyebabkan pura tersebut menjadi leteh.

Maka dengan hal demikian, tentu bila hal ini kita lakukan, menjadi sangat berat kalau orang sampai terbakar.

Namun, hal ini dapat menjadi shock theraphy supaya jangan sampai ada yang mengaku-ngaku Dewa. Malah akan jadi masalah.

Apalagi orang-orang yang suka kerauhan perilakunya di masyarakat tidak benar, ini akan merusak desa atau banjar itu sendiri.

Marilah kita beragama yang cerdas. Kerauhan silahan saja.

Tapi masyarakat harus tahu bagaimana ciri-ciri kebenarannya.

Sekarang peranda kasih tahu, ciri-cirinya adalah tidak terbakar oleh api, tidak basah oleh air, dan masyarakat yang ada di areal tempat kerauhan tersebut merasakan bulu kuduk merinding. 

Sumber . Tribun-Bali .com


4 comments for "Jangan Terlalu Mudah Percaya Sama Orang Yang Kerauhan, Begini Cara Mengujinya!"

  1. Bagaimana jika orang yg sedang kerauhan tapi beliau berkata tentang orang2 sekitar(jgn selingkuh/jgn ngegosip)apakah itu bisa dipercaya atau tidak,sementara yg lain menegaskan(klo tidak percaya maka mereka semua bodoh)dlm kontek msh kerauhan.mohon penjelasannya krn tyang nak belog,tdk mengerti yg seperti itu🙏

    ReplyDelete
  2. Saya paling tidak percaya dg orang yg kerauhan. Tapi saya punya pertanyaan ;
    Apakah api atau api unggun bisa menguji kebenaran kerauhan tsbt?
    Apakah air jg bisaenguji lebaran kerauhan tersebut?
    Kerauhan spt apa yg benar?

    ReplyDelete
  3. cara aman menguji orangnyg kerauhan roh suci adalah dg menyuruhnya berdiri di atas dulang yg trbuat dari tanah liat, atau dg mencelupkan tangannya ke air, kemudian di letakan di abu dupa, bila abunya melekat bisa dibilang itu bukan roh suci melainkan bebai atau hanya mengada2

    ReplyDelete
  4. Kerauhan itu apakah harus Ida bhatara yg ngerauhin, apakah tidak mungkin para buta , pengabih Ida bhatara.
    Jika hanya Ida bhatara yg rauh, berarti di pura tidak perlu ada segehan untuk buta.
    Kembali ke sewewengkon dresta ring genah masing2.
    Percaya dan tidak tyang pikir bukan suatu masalah.
    Ampure tambet tyange mekadi percaye Sareng hal tersebut.
    Yen lebian ngetest nak kerauhan, nyanan buyar odalane.

    ReplyDelete