Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

UNSUR-UNSUR SERTA MAKNA DARI BANTEN PEJATI YANG BELUM BANYAK DI KETAHUI ORANG

UNSUR-UNSUR SERTA MAKNA DARI BANTEN PEJATI YANG BELUM BANYAK DI KETAHUI ORANG

Pejati adalah rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya untuk melaksanakan upacara yadnya dan mohon dipersaksikan yang bertujuan untuk mengesahkan dan meresmikan suatu upacara yang telah diselenggarakan secara lahir bathin, agar mendapatkan keselamatan.

Banten pejati sering dibuat, ketika pertama kali masuk dan sembahyang di sebuah tempat suci. Oleh karena itu dalam sumber kutipan Makna Canang Sari, Daksina, Peras, Pejati, Ajuman, Sesayut pejati dipandang sebagai banten yang utama, maka di setiap set banten apa saja, selalu ada pejati dan pejati dapat dihaturkan di mana saja, dan untuk keperluan apa saja .

Banten Pejati yang sering juga disebut "Banten Peras Daksina" dihaturkan kepada Sanghyang Catur Loka Phala, yaitu:

• Daksina kepada Sanghyang Brahma

• Peras kepada Sanghyang Isvara

• Ketupat kelanan kepada Sanghyang Wisnu

• Ajuman kepada Sanghyang Mahadeva

Secara sederhana, banten adalah persembahan dan sarana bagi umat Hindu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sang Pencipta. Merupakan wujud rasa terima kasih, cinta dan bakti pada beliau karna telah dilimpahi wara nugrahaNya. 

Namun, secara mendasar dalam agama Hindu juga adalah bahasa agama. Ajaran suci Weda sabda suci Tuhan disampaikan kepada umat dalam bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis seperti dalam kitab Weda Samhita disampaikan dengan bahasa Sanskerta, ada disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa tulisnya. 

Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu Weda juga disampaikan dengan bahasa Mona. Mona artinya diam namun banyak mengandung informasi tentang kebenaran Weda dan bahasa Mona itu adalah banten.

Dalam “Lontar Yajña PrakrtI”,

“Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka dan bhuana”


Artinya :

Semua jenis banten (upakara) adalah merupakan simbol diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung (alam semesta).


Dalam “Lontar Tegesing Sarwa Banten”, dinyatakan:

“Mapiteges pakahyunan Banten, nga; pakahyunane sane jangkep galang ”

Artinya : Banten itu adalah buah pemikiran yaitu pemikiran yang lengkap dan bersih.

Bila dihayati secara mendalam, banten merupakan wujud dari pemikiran yang lengkap yang didasari dengan hati yang tulus dan suci. Mewujudkan banten yang akan dapat disaksikan berwujud indah, rapi, meriah dan unik mengandung simbol, diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci. 

Bentuk banten itu mempunyai makna dan nilai yang tinggi mengandung simbolis filosofis yang mendalam. Banten itu kemudian dipakai untuk menyampaikan cinta, bhakti dan kasih.


BANTEN PEJATI

Pejati berasal dari bahasa Bali, dari kata “jati” mendapat awalan “pa-“. Jati berarti sungguh-sungguh, benar-benar. Awalan pa- membentuk kata sifat jati menjadi kata benda pajati, yang berada makna melaksanakan sebuah pekerjaan yang sungguh-sungguh.

Jadi, Banten Pejati adalah sekelompok banten yang dipakai untuk menyatakan rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya, akan melaksanakan upacara dan mohon dipersaksikan, dengan tujuan agar keselamatan. Banten pejati merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Pañca Yajña.

Banten Pejati sering juga disebut "Banten Peras Daksina". Ketika pertama kali masuk dan sembahyang di sebuah tempat suci.

Pejati dipandang sebagai banten yang utama, maka di setiap set banten apa saja, selalu ada pejati dan pejati dapat dihaturkan di mana saja, dan untuk keperluan apa saja.


UNSUR DAN MAKNA FILOSOFI

Adapun unsur-unsur banten pejati, yaitu:

• Daksina

• Banten Peras,

• Banten Ajuman Rayunan / Sodaan

• Ketupat Kelanan

• Penyeneng / Tehenan / Pabuat

• Pesucian

• Segehan alit

Sarana yang Lain yaitu :

• Daun / Plawa; lambang kesejukan.

• Bunga; lambang cetusan perasaan

• Bija; lambang benih-benih kesucian.

• Udara; lambang pawitra, amertha

• Api; lambang saksi dan pendetanya Yajna.

Daksina mengurung:

bakul / serembeng, simbol arda candra kelapa dengan sambuk maperucut, simbol brahma dan nada

bedogan, simbol swastika

kojong pesel-peselan, simbol ardanareswari

kojong gegantusan, simbul akasa / pertiwi

telur bebek simbol windu dan satyam

tampelan, simbol trimurti

irisan pisang, simbol dharma

irisan tebu, simbol smara-ratih

benang putih, simbol siwa

Ketupat Kelanan adalah lambang dari Sad Ripu yang telah dikendalikan atau teruntai oleh rohani sehingga kebajikan senantiasa termasuk kehidupan manusia. Dengan terkendalinya Sad Ripu maka keseimbangan hidup akan menyelimuti manusia.

Banten Pejati dihaturkan kepada Sanghyang Catur Loka Phala yaitu:

• Daksina kepada Sanghyang Brahma

• Peras kepada Sanghyang Iswara

• Ketupat kelanan kepada Sanghyang Wisnu

• Ajuman kepada Sanghyang Mahadewa

Banten Pejati terdiri dari 4 macam tetandingan yaitu:

DAKSINA:

Terdiri dari wakul daksina yang dibuat memakai janur / slepan yang di dalamnya dimasukkan tapak dara beras, dan kelapa yg sudah dihilangkan sabutnya, lalu diatas kelapa diisi 7 kojong yg terbuat dari janur / slepan, yg masing-2 kojong diisi telor itik, base tampelan , irisan pisang tebu, tingkih, pangi, gegantusan, pesel-peselan lalu di isi benang putih dan terakhir letakkan canang burat wangi di atasnya. 

PERAS: 

Memakai alas taledan lalu di isi diisi kulit peras yang diisi beras + benang + base tampelan, lalu di atas kulit peras akomodasi 2 buah tumpeng nasi putih, raka-raka (jaja dan buah-buahan), ditambah kojong rangkadan yang terbuat dari janur / slepan yang berisi kacang saur, gerang / terong goreng, garam, bawang goreng, timun, lalu di isi canang dan sampiyan peras.

SODAAN / AJUMAN RAYUNAN: memakai tamas dari janur / slepan yang diisi 2 buah nasi penek, raka-raka secukupnya, ditambah dengan dua buah clemik yang berisi rerasmen seperti kacang saur, teri, gerang dan lain-lain. Lalu di isi canang dan sampiyan Plaus / sampiyan Soda.

TIPAT KELAN: 

Memakai tamas sama seperti Sodaan, cuma di dalamnya diisi ketupat nasi sebanyak 6 biji, lalu dilengkapi dengan 2 buah clemik yang berisi rerasmen. Di isi dapat diisi dan sampiyan Plaus / Soda. Utk melengkapi Pejati perlu juga dibuatkan Pesucian yang terbuat dari ceper bungkulan yang di dalamnya dijahitkan 5 buah clemik, yang masing-masing berisi boreh miik, irisan pandan wangi yang kaya minyak rambut, irisan daun bunga sepatu, sekeping begina metunu, seiris buah jeruk nipis dan 1 buah takir untuk tirta, reringgitan suwah serit dan base tampel. Untuk memberi informasi juga perlu dibuatkan segehan putih kuning dua tanding bila pejati untuk dibawa ke Pura / Tempat suci.

Untuk melengkapi banten Pejati juga perlu dibuatkan Penyeneng yang dibuat dari 3 potong janur lalu kita rupa sehingga rupa sehingga tiga bentuk kojong yang disatukan dan berdiri tegak, di mana masing-masing kojong diisi dengan beras, tepung tawar (beras + daun dapdap + kunir ditumbuk ) dan irisan bunga cepaka dan jepun patok boreh miik, jagan lupa diisi benang putih.


Semoga bermanfaat buat banyak orang


Post a Comment for "UNSUR-UNSUR SERTA MAKNA DARI BANTEN PEJATI YANG BELUM BANYAK DI KETAHUI ORANG"