Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Sembarangan Menempatkan Tempat Tidur Atau Tidur Di Bali Kalau Tidak Mau Di Ganggu

Jangan Sembarangan Menempatkan Tempat Tidur Atau Tidur Di Bali Kalau Tidak Mau Di Ganggu 


Tidur itu tidak dilarang, tapi tidur yang sembarangan ada konsekuensinya. Sebagai masyarakat yang dikenal dengan aturan-aturan adat yang kental dan masih terjaga, masyarakat Bali hingga kini masih meyakini bahwa tidur tidak boleh sembarangan. 

Karena di Bali terdapat kosep Hulu-Teben konsep ini terkait dengan mata angin

Hulu-teben adalah konsep penataan tempat secara vertikal dan horizontal yang dapat membawa tatanan kehidupan skala dan niskala.

Mulai dari sikap atau posisi tidur, tempat tidur, hingga bangunan yang boleh dijadikan sebagai tempat tidur pun diatur sedemikian rupa dalam adat Bali. Terdapat tiga macam tempat berisitirahat yang disebutkan dalam sastra Bali, yaitu

1. Galar: istirahat untuk beberapa saat dengan tidur

2. Galir: istirahat untuk beberapa menit atau pelepas lelah dengan duduk dan bersantai

3. Galur: istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah Bali disebut dengan “mulih ke desa/gumi wayah” alias mati/meninggal

Pada dasarnya, umat hindu sangat mensucikan 9 penjuru arah mata angin. Tapi, dalam hal ini, (arah kepala waktu tidur), ada konsep palemahan (tata ruang) yang mengatur dalam hal ini. 

Dalam tata adat di bali, setiap keluarga hindu bali punya tempat pemujaan (sangah/merajan) yang di bangun di sebelah timur (tepatnya, kaje kangin) dari areal pekarangan yg di tempati. Dan di bali juga ada konsep (me-hulu gunung). Masyarakat hindu bali menggunakan gunung sebagai arah utara.

Nah, untuk lebih mensucikan tempat pemujaan, maka masyarakat hindu di bali mengatur arah kepala untuk tidur dengan sedemikian rupa. 

Dalam hal ini, kepala ada otaknya, otak sebagai pusat dari semua yang ada pada diri manusia. Maka, dengan sendirinya kepala kitalah yg paling dekat dengan tempat pemujaan. Ini untuk mengingatkan kita untuk selalu dekat, mengingat, dan melaksanakan ajaran hindu. Dan ada yang lucu disini, ajaran tidur hindu di bali, telah secara tidak langsung membuat penduduk bali mempersatukan diri lewat posisi tidur. 

Di bali utara dan bali selatan jika tidur dengan posisi sama-sama kepala di utara, maka ketemunya kepala dengan kepala. Utara di bali selatan, adalah selatan di bali utara.

Dari cerita orang tua bali jaman dulu meyakini jika kita tidur dengan posisi yang seharusnya hulu-teben kita rubah menjadi teben-hulu,  maka kemungkinan akan di ganggu oleh penunggu rumah kalau di bali sering di sebut penunggu karang karena di anggap sudah melangkahi yang punya rumah atau tidak sopan.

Sebaiknya bila kita menginap atau bermalam di suatu daerah yang masih kental adat dan budayanya ikuti semua aturan yang sudah ada sejak jaman dahulu.

Darinuraian di atas semua kembali kepada diri kita masing-masing boleh percaya atau tidak



Post a Comment for "Jangan Sembarangan Menempatkan Tempat Tidur Atau Tidur Di Bali Kalau Tidak Mau Di Ganggu "