Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Duuuuuh, 'Ngeriii' Mayat Dibakar Apa Tidak Sebaiknya Dikubur Saja?

Duuuuuh, 'Ngeriii' Mayat Dibakar Apa Tidak Sebaiknya Dikubur Saja?

sumber foto @kanimochi

Tulisan sangat bagus di post oleh Akun Facebook Mustika Wayan sebagai renungan untuk diri sendiri

"Duuuuuh, ngeriii. Mayat dibakar. Apa tidak sebaiknya dikubur saja? Gak kebayang kalau mayatku nanti dibakar. Tidak adakah cara mati yang lebih indah?" 

Wajahnya bergidik menahan kengerian mengamati pembakaran mayat di sebuah kuburan tepi pantai.

Sang Kakek memaklumi kegundahannya.

"Nah, Nak. Kengerianmu itulah bentuk nyata yang ingin dilatih untuk dilenyapkan dalam rangkaian acara Ngaben di Bali."

"Di rumah kita ini, kehidupan dan kematian adalah perayaan. Kehidupan adalah perayaan tibanya Sang Jiwa memasuki tubuh manusia untuk hidup di dunia penuh cahaya. Kematian adalah perayaan kepulangan Sang Jiwa ke rumah sejatinya yang penuh cahaya."

"Namun kepulangan Sang Jiwa ke alam-Nya yang penuh cahaya, akan terhalang oleh kemelekatannya terhadap tubuh dan kenangan di bumi yang sangat dicintainya."

"Api, panas, pembakaran, adalah cara sederhana untuk melepas sebuah ikatan. Air dipanaskan akan melepaskan ikatan Oksigen dan Hidrogen. Semua pembakaran akan melepaskan kemelekatan."

"Kemelekatan Jiwa dengan kenangan dalam keluarganya akan dilepas lewat upacara Mapepegat atau memutus, agar yang tersisa adalah keikhlasan melepas Sang Jiwa pulang."

"Anté atau rantai sebagai simbolik segala ikatan keduniawian, juga dilepas dengan Tiyuk Pangentas, pisau pemutus kemelekatan cinta pada dunia."

"Jika masih ada sisa ketidakikhlasan melepas bumi, diperciki pula Tirta Pangentas pada Sang Mati, agar Jiwanya ikhlas melanjutkan perjalanan pulang."

"Musik indah dan syahdu dari gambelan angklung, atau geriap baleganjur yang riang mengantar pulang, juga warna-warni keindahan Balé-baléan, melengkapi nyanyian kidung syahdu penghibur momentum kepulangan Jiwa. Bukankah itu kematian yang indah?"

"Jasad yang telah lebur terbakar, akan memudahkan Sang Jiwa melupakan kenangan hidup bersama tubuhnya yang telah sirna."

"Semua rangkaian ritual kepulangan itu adalah perayaan bagi pembebasan Jiwa dari penjara tubuhnya. Bukankah ini pelajaran kemahardikaan yang mengagumkan?"

"Tanpa kebebasan Jiwa setelah kematian, mereka akan terjebak kembali di alam manusia ini. Alam Nara-ika, atau alam nareka; alam neraka. Dimensi alam penuh siksaan bagi Roh-Roh yang ingin tetap berperan di bumi, namun tidak lagi memiliki tubuh fisik. Gentayangan kemana-mana."

"Kapan-kapan akan Kakek jelaskan panjang tentang perjalanan Jiwa setelah kematian. Itupun jika kau sungguh-sungguh tidak merasa ngeri mendengar keindahan perjalanan itu."

Sang Kakek menyudahi kata-katanya yang panjang lebar.


Post a Comment for "Duuuuuh, 'Ngeriii' Mayat Dibakar Apa Tidak Sebaiknya Dikubur Saja?"