Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Beberapa Larangan Saat Hari Raya Nyepi Serta Banten Nyepi Untuk Rumah Tangga

foto hanya ilustrasi sumber google

Hari Raya Nyepi adalah hari peringatan tahun baru bagi umat Hindu atas naiknya raja kanishka di India pada tahun 78 Masehi. Naiknya raja kanishka yang berasal dari sekte minoritas dan berhasil membuat seluruh sekter yang di India setara dan disatukan dianggap sebagai sebuah kelahiran. Kelahiran Agama Hindu yang harmonis. Hari Raya Nyepi juga disebut sebagai Tahun Baru Isaka dan dirayakan oleh seluruh umat Hindu di Dunia namun pelaksanaannya sesuai dengan tradisi setempat dan geografis umat Hindu itu berada.

Di Bali, dalam pelaksanaannya Hari Raya Nyepi terdapat empat hal yang dilarang yang disebut Catur Brata Penyepian. Empat larangan tersebut yaitu:

1. Amati Gni, Tidak menyalakan api.

2. Amati Karya, Tidak bekerja, beraktifitas

3. Amati Lelungan, Tidak bepergian atau melakukan perjalanan

4. Amati Lelanguan, Tidak mencari kesenangan atau hiburan.

Ke-empat larangan ini merupakan esensi dari perayaan Nyepi Bali

Pada tahun 78 Masehi di India, banyak terjadi perang antar raja dan sekte yang ada di sana. Untuk perang dan perkelahian antar sekte, jika terdapat satu sekte yang berkuasa, maka sekte lain akan ditekan. Setelah adanya seorang raja yang berasal dari minoritas bernama Raja Kanishka, peperangan dan perkelahian tersebut kian berkurang hingga akhirnya berhenti. Kendati bernama Kanishka, namun Raja Kanishka lebih dikenal sebagai Raja Isaka inilah cikal bakal disebutnya tahun baru saka.

Sehari sebelum hari Raya Nyepi umat Hindu akan melakukan Upacara Tawur Agung Kesanga. Kegiatan ini dilakukan berjenjang dari tingkat provinsi akan dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih, kemudian ditingkat kabupaten/kota, kecamatan, desan hingga rumah tangga. Upacara ini merupakan ritual agama yang tidak terpisahkan dari hari Raya Nyepi. Hari Raya Nyepi itu sendiri merupakan sebuah simbol penyucian dunia mikro (Buana Alit) atau diri sendiri baik dari pikiran dan perkataan juga perbuatan negatif, sekaligus penyucian dunia makro (Buana Agung), alam semesta dan isinya untuk keharmonisan dan keseimbangan alam semesta.

Serangkaian banten hari raya Nyepi akan haturkan sehari menjelang Nyepi sebagai Yadnya bagi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Secara rinci berikut adalah serangkaian banten yang akan dihaturkan pada Upacara Tawur Agung Kesanga

Baca juga : Ngejot Dilakukan Setelah Selesai Memasak

Baca juga : Ari-Ari Bayi Diberi Panda Berduri

Baca juga : Orang Kerauhan Begini Cara Mengujinya

Banten Nyepi untuk Rumah Tangga:

1. Ring Pamrajan / Sanggah / tempat bersembahyang keluarga; Menghaturkan Banten Pejati, yaitu Pras, Ajuman, Daksina, Ketipat kelanan, Canang Lengawangi Buratwangi.

2. Di Natar Mrajan / Sanggah ; Menghaturkan segehan / nasi putih kuning atanding. Di Jaba / Lebuh / bagian luar sebelum masuk ke halaman rumah: Mendirikan/nanceb sanggah cucuk disebelah kanan kori / pemedalan, disanggah cucuk munggah banten Daksina, Pras, Ajuman, Dandanan, ketipat kelanan, Sesayut penyeneng, janganan kajang panjang, pada sanggah cucuk digantung ketipat kelanan, sujang/cambeng berisi tuak, arak, brem dan air tawar.

3. Dibawah sanggah cucuk menghaturkan segehan Manca Warna (segehan dengan 9 warna, sesuai arah pangider-ideran sebanyak 9 tanding). Lauknya olahan ayam Brumbun atanding, disertai dengan tabuhan arak, Brem, Tuwak serta air tawar, di haturkan kehadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja.

Segehan nasi cacahan 108 tanding dengan ulam jajron matah serta dilengkapi dengan segehan agung asoroh, serta tetabuhan arak, tuak, brem, Air tawar, dihaturkan kehadapan Sang Bhuta Bala dan Sang Kala Bala, semua sarana diatas dihaturkan di bawah, pada waktu sandhi kala.

Semua anggota keluarga (kecuali yang belum tanggal gigi / makupak) menyucikan diri dengan natab banten Bayakala, dan Banten Prayascitta serta natab banten Sesayut pamyak kala, dihalaman / natah rumah masing-masing. Setelah itu dilanjutkan dengan pangrupukkan (mabuu-buu) mengelilingi rumah / pekarangan dengan sarana api (obor/prapak) serta membunyikan bunyi-bunyian seperti kulkul bambu atau yang lainnya, menyemburkan bawang merah, jangu dan masui (disebut trikotuka) mengelilingi pekarangan rumah.

Demikianlah larangan serta banten dalam perayaan hari raya nyepi jika ada kekurangan mohon di koreksi, artikel ini di kutip dari paduarsana semoga bermanfaat bagi banyak orang  


Post a Comment for " Beberapa Larangan Saat Hari Raya Nyepi Serta Banten Nyepi Untuk Rumah Tangga"