Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apakah Hindu Menyembah Patung Atau Batu?

 

sebelum kita membahas tentang "Hindu memuja Patung atau Batu", mari kita simak dulu sloka bhagawad gita 4.11

ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham, mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah

"Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan, wahai putera Partha"

Para bijak sering mengatakan bahwa agama Hindu merupakan agama yang universal. Ibarat pepatah, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya di mana pun agama Hindu tersebut akan selalu menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tradisi, dan budaya setempat.

Hindu bukanlah agama yang kaku, karena sifatnya fleksibel. Pemujaan terhadap Tuhan dalam Hindu tak harus seragam, tak harus menggunakan mantra-mantra yang berbahasa Sansekerta, namun juga dengan bahasa Bali, Jawa, atau bahasa lainnya yang penting niat dan ketulusan.

Tuhan yang di dalam agama Hindu merupakan Acintya (tak terpikirkan oleh akal manusia) melalui Nyasa (simbolisme) wujud-Nya dapat dihayalkan menurut fantasi manusia. Melalui Nyasa inilah idealisasi untuk tidak terhayalkan. Sifat rahasia karena esensi-Nya diluar kemampuan pikir manusia ia tersembunyi dalam kabut rahasia pengetahuan manusia. Sifat-sifat rahasia itu dipikirkan ke dalam bentuk Nyasa dengan cara-cara simbolis yang disebut Maya Sakti.

Mencapai yang tak terpikirkan sangat sulit bagi kita yang terbatas ini. Sedangkan wujud-Nya tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapai-Nya dan kata-kata tak dapat menerangkan-Nya. Didefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaran-Nya. Karena Tuhan itu sifatnya Acintya (tak terpikirkan dan tak berwujud). Sehingga kita membutuhkan simbol dan makna dari fungsi Tuhan itu sendiri untuk memudahkan pemahaman.

Tuhan yang gaib disimbolkan dengan berbagai-bagai simbol. Ia disimbolkan dengan gambar dan aksara. Dewa Brahma disimbolkan dengan aksara Ang, Wisnu dengan aksara Ung dan Siwa dengan aksara Mang. Apabila simbol dari ketiga Dewa tersebut digabungkan, maka akan menjadi AUM yang dibaca "OM" yang merupakan simbol suci agama Hindu. OM adalah lambang Tuhan Yang Maha Kuasa. Lambang-lambang juga kita jumpai dalam berbagai upakara yajna. Dasar pemujaan kepada Tuhan adalah bhakti. Bhakti itu direalisasikan dalam beraneka macam cara dan bentuk. Barang siapa yang bhakti kepada-Nya akan diberkahi. Aksara suci OM ini juga disebut Pranawa Mantra, yaitu intisari dari semua mantra yang biasanya diucapkan untuk memulai pengucapan mantra-mantra lain. Pranawa Mantra sangat disucikan oleh Pendeta dan umat Hindu secara menyeluruh.

Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan Yang Tunggal itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Siwa sebagai pemralina (pelebur). Banyak lagi panggilan-Nya yang lain. Ia Maha Tahu, berada di mana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.

Tuhan Yang Maha Kuasa juga disebut " Hana Tan Hana" yaitu wujud yang ada tetapi tidak ada. Karena kita tidak mampu melihat wujud Tuhan. Namun sebenarnya Tuhan itu ada. Beliau disebut Sang Hyang Acintya artinya Tuhan tak dapat dibayangkan oleh manusia.

Tuhan itu tidak nampak oleh mata, namun dirasakan, diyakini ada, seperti nafas di dalam tubuh kita sendiri. Ia ada namun, bagaimana rupanya?

Sampai saat ini belum ada wujud patung dari Tuhan atau Brahman atau Sang Hyang Widhi, karena Beliau sifatnya Acintya (tak terpikirkan dan tak berwujud) yang ada adalah patung dari sinar suci Brahman (Tuhan) yang disebut dengan Dewa.

Patung Dewa-dewi itu menandakan bahwa fungsi Tuhan yang disebut Dewa berasal dari kata "DIV" yang artinya sinar. Sinar inilah yang digambarkan sesuai dengan fungsi Beliau.

Tuhan menurut Hindu itu tidak laki maupun tidak perempuan dan juga tidak banci. kita tidak bisa mengukur Tuhan yang bersifat tidak terbatas dengan ukuran-ukuran yang terbatas. Laki, perempuan dan banci itu hanya ukuran makhluk nyata dan terbatas. Ukuran itu hanyalah untuk membantu manusia dalam memahami sesuatu yang abstrak dan tak terbatas. Sebenarnya kekuatan hakikih Tuhan itu adalah Purusa dan Prakerti. Maka Tuhan juga dikatakan sebagai Ardhanareswari.

Sifat-sifat dan karakter Tuhan itu sangat banyak. Kalau dalam kenyataan bahwa kisah Dewa dalam Hindu ada laki atau perempuan itu hanyalah metode awam untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak. Malah dalam Upanisad dikatakan bahwa Tuhan itu Neti-neti yang artinya bukan ini dan bukan itu. Atau Tuhan itu jauh tetapi juga dekat. Tuhan itu memenuhi segala ruang. Tuhan bersifat Wyapi Wyapaka, meresapi segala. Tidak ada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau berada di sini dan berada di sana. Tuhan itu ada dimana-mana.

Tuhan dipuja dalam manifestasi-manisfestasi tertentu sesuai dengan keinginan pemujanya (bhakta). Dewa-dewa yang dipuja dan ingin dihadirkan saat pemujaan tersebut disebut Ista Dewata. Banyaknya sebutan bukanlah cermin politheisme. Seperti halnya seseorang mempunyai sebutan lebih dari satu, misalnya sebutan di rumah, di kantor, di masyarakat, nama kecil, nama samaran, dan sebagainya bukanlah berarti orangnya banyak, melainkan hanya satu.

Bagi seorang yang masih sederhana jalan pikirannya tidaklah mungkin dengan mudah dapat mengenal-Nya. Lain halnya dengan menambahkan, tetapi namanya apa? Setiap orang akan memberi nama dan gelar kepada-Nya dengan nama-nama pilihan secara subyektif.

Mulai dari saat manusia menginginkan dan menghayalkan-Nya Ia diberi nama menurut pikiran manusia.

Yatrakama Wasayitwa adalah nama sifat Tuhan Yang Maha Kuasa itu juga. Yatrakama Wasayitwa artinya kehendak dan sifat kemahakuasaannya itu tidak dapat dihitung banyaknya. Pendeknya sifat dan kodratnya sangat banyak sehingga manusia tidak dapat menyebutkan satu persatu.

Dari uraian diatas jelas bahwa sifat Tuhan itu banyak. Tuhan Yang Maha Esa dengan sifat yang amat banyak. Manusia memberi nama sifat-sifat itu menurut pengertian manusia. Para Maharsi yang mula-mula memberi nama sifat-sifat itu. Nama-nama itu diberikan oleh para Maharsi pada zaman dahulu. Sejak Wahyu diturunkan. Waktu wahyu diturunkan manusia tidak dapat memberi nama kepada-Nya. Baru kemudian saja para Maharsi memberi nama kepada Tuhan yang tak bernama.

Kalau kita menamakan Tuhan itu warnanya merah tidak berarti Tuhan tidak mempunyai warna lain. Ia juga mempunyai warna yang putih. Ia juga mempunyai warna jingga. Ia juga mempunyai warna hijau. Semua warna ada padanya. Begitulah akhirnya Ia memiliki banyak nama. Apakah dengan nama yang banyak berarti Tuhan itu banyak? Tentu tidak bukan. Ia tetap Esa. Yang Maha Tunggal.

Sistem pemberian banyak nama kepada Tuhan sesuai peranan-Nya, dalam agama Hindu disebut "Ekam Sat Viprah Bahuda Vadanti" artinya "Tuhan itu satu tetapi para bijak menyebut-Nya dengan banyak nama".

Demikian Para Rsi menamakan Tuhan itu. Para Rsi itu disebut Vipra. Orang yang arif bijaksana. Orang yang ahli dan pandai.

Hendaknya kita selalu bijaksana dalam menyikapi setiap anggapan orang lain dengan memberikannya penjelasan. Bukan malah memarahinya atau menuduhnya melakukan sebuah pelecehan. Semoga bermanfaat.

Post a Comment for "Apakah Hindu Menyembah Patung Atau Batu?"